ditetapkan oleh Pemerintah;
c.
pendidikan dan pelatihan;
d.
tugas belajar;
e.
cuti tahunan;
f.
cuti alasan penting;
g.
cuti sakit;
h.
cutimelahirkan;
i.
cuti besar;
j.
cuti di luar tanggungan negara;
k.
dinas luar;
l.
masa persiapan pensiun;
m.
pemberhentian sementara sebagai
PEGAWAI
Pasal 17
Pegawai yang tidak masuk kerja karena menjalani cuti
tahunan, cuti karena alasan penting, cuti sakit, cuti besar,
dan
cutimelahirkan
tidak
diberlakukan
pemotongan
tunjangan kinerja.
Pasal 18
Pemotongan Tunjangan Kinerja Pegawai dari komponen
Kehadiran dikenai terhadap Pegawai yang tanpa Alasan yang
Tunjangan Kinerja bagi PNS yang melaksanakan cuti
besar karena melahirkan anak keempat ... seterusnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibayarkan
sebesar 100% (seratus persen).
Pasal 19
(1) Tunjangan Kinerja bagi PPPK yang melaksanakan cutimelahirkan dibayarkan sebesar 100% (seratus persen).
(2) Untuk
kelahiran
anak
pertama
sampai
dengan
kelahiran anak ketiga pada saat menjadi PPPK, PPPK
berhak atas cuti
Kinerja bagi Pegawai yang melaksanakan cuti
tahunan dibayarkan sebesar 100% (seratus persen).
Pasal 18
(1)
Tunjangan Kinerja bagi PNS yang melaksanakan cutimelahirkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) huruf a
terdiri atas:
a.
cuti tahunan;
b.
cuti besar.
c.
cuti sakit;
d.
cutimelahirkan;
e.
cuti karena alasan penting; dan
f.
cuti bersama
Pegawai yang
melaksanakan cuti sakit sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dan huruf c.
Pasal 19
Bagi
Pegawai
yang
melaksanakan
cutimelahirkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d, pengurangan
Tunjangan Kinerja dilakukan dengan ketentuan:
a.
Pegawai yang melaksanakan cuti
Pasal 39
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
a.
Pegawai
yang
sedang
proses
dan/atau
sedang
menjalani
hukuman
Disiplin,
cuti
sakit,
cutimelahirkan, cuti karena alasan penting, dan cuti besar;
dan
b.
Pegawai yang sedang menjalani tugas belajar dibiayai,
pendidikan dan pelatihan atau short course
Organisasi;
c.
mengikuti pendidikan dan pelatihan atau short
course lebih dari 6 (enam) bulan secara berturut-
turut;
d.
melaksanakan
cuti
besar,
cutimelahirkan/
persalinan keempat dan seterusnya, dan cuti sakit;
dan/atau
e.
dijatuhi hukuman Disiplin yang tidak terkait
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada
huruf
pelatihan;
d.
tugas
belajar
dengan
status
diberhentikan
dari
jabatannya;
e.
Cuti tahunan;
f.
Cuti alasan penting;
g.
Cuti sakit;
h.
Cutimelahirkan;
i.
Cuti besar;
j.
Cuti di luar tanggungan negara;
k.
dinas luar;
l.
masa persiapan pensiun; atau
m.
pemberhentian sementara sebagai PNS.
Bagian
sementara dari
Pegawai Negeri Sipil, diberlakukan pemotongan
Tunjangan sesuai ketentuan Peraturan Menteri ini;
dan
e.
Pegawai yang sedang menjalani cuti sakit, cutimelahirkan, cuti karena alasan penting, dan/atau
cuti besar sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini
dan saat berlakunya Peraturan Menteri ini masih
menjalani cuti dimaksud
persen);
e.
menjalani cuti sakit, diberlakukan pemotongan
Tunjangan sebesar 0% (nol persen) dan 2,5% (dua
koma lima persen);
f.
menjalani
cutimelahirkan,
diberlakukan
pemotongan Tunjangan sebesar 0% (nol persen);
g.
menjalani
lima persen)
dari Tunjangan Kinerja harian pada setiap harinya terhitung
sejak tanggal cuti alasan penting.
Pasal 22
Bagi Pegawai yang melaksanakan cutimelahirkan, berlaku
ketentuan sebagai berikut:
a.
Pegawai yang melaksanakan cutimelahirkan pertama
sampai dengan ketiga, tidak dikenakan pemotongan
Tunjangan Kinerja; dan
b.
pembayaran ... Tunjangan Kinerja bagi Pegawai yang
melaksanakan cutimelahirkan keempat mengacu pada
ketentuan dalam Pasal 20.
Pasal 23
(1)
Bagi Pegawai yang melaksanakan cuti sakit, berlaku
ketentuan sebagai berikut:
a.
sakit selama 1 (satu) Hari sampai dengan 3 (tiga)
Hari
tidak
dikenakan
pemotongan
Tunjangan
Kinerja
No.1267
-7-
(4)
Alasan yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
meliputi:
a.
sakit;
b.
cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit, cutimelahirkan,
dan cuti karena alasan penting; atau
c.
tugas kedinasan.
(5)
Pengguna yang sakit, cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit,
cutimelahirkan, cuti
menjalani cuti tahunan;
c.
menjalani cuti besar;
d.
menjalani cuti karena alasan penting;
e.
menjalani cuti sakit;
f.
menjalani cutimelahirkan;
g.
menjalani cuti bersama;
h.
menjalani hari bebas kerja;
i.
diberikan libur atau dispensasi yang ditetapkan oleh
kepala perwakilan Kementerian Keuangan atau pejabat
pimpinan
No.1518
-22-
3 (tiga) bulan, bagi Pegawai wanita yang menjalani cutimelahirkan untuk kelahiran anak pertama sampai
dengan anak ketiga.
(6)
Hari bebas kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
huruf h, diberlakukan pemotongan Tunjangan sebesar
0% (nol persen), dengan ketentuan sebagai berikut:
a.
bagi
Pegawai
No.1741
-7-
(6)
Pembuatan surat cuti alasan penting, cuti tahunan, cutimelahirkan, cuti besar, dan tugas belajar sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c sampai dengan huruf g
mengacu
pada
ketentuan
peraturan
perundang-
undangan.
Pasal 10
(1)
Pengecualian kehadiran Pegawai sebagaimana dimaksud
dalam Pasal
Pelaksana SPD
dalam lingkup unit eselon II.
b.
sakit dengan bukti yang sah;
c.
cuti alasan penting;
d.
cuti tahunan;
e.
cutimelahirkan;
f.
cuti besar; dan
g.
tugas belajar.
(2)
Kewenangan
penerbitan
surat
tugas
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat didelegasikan
kepada
menjalani cuti tahunan;
c.
menjalani cuti besar;
d.
menjalani cuti karena alasan penting;
e.
menjalani cuti sakit;
f.
menjalani cutimelahirkan;
g.
menjalani cuti bersama;
h.
menjalani hari bebas kerja;
i.
diberikan libur atau dispensasi yang ditetapkan oleh
kepala perwakilan Kementerian Keuangan atau pejabat
pimpinan
dalam
Pasal
19
huruf f
diberlakukan sebesar 0% (nol persen) untuk paling lama 3
(tiga) bulan, bagi Pegawai wanita yang menjalani cutimelahirkan untuk kelahiran anak pertama sampai dengan
anak ketiga.
www.jdih.kemenkeu.go.id
sementara dari
Pegawai
Negeri
Sipil,
diberlakukan
pemotongan
Tunjangan sesuai ketentuan Peraturan Menteri ini;
dan
e.
Pegawai yang sedang menjalani cuti sakit,
cutimelahirkan, cu ti karena alasan pen ting, dan/ atau
cuti besar sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini
dan saat berlakunya Peraturan Menteri ini masih
Pemotongan
Tunjangan
sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 11 huruf f diberlakukan paling lama 3
(tiga) bulan, bagi Pegawai wanita yang menjalani cutimelahirkan untuk kelahiran anak pertama sampai
dengan anak ketiga.
(5)
Hari bebas kerja sebagaimana dimaksud dalam
Pas al 11 h uruf h, mengiku ... bagi
Pegawai
di
lingkungan
Kementerian Keuangan.
(6)
Surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) harus disesuaikan dengan ketentuan
yang mengatur mengenai Cuti Pegawai Negeri Sipil.
7.
Keten tuan Pas al 13 dihapus.
8.
Ketentuan Pasal 14 dihapus.
9.
Ketentuan Pasal 17 diubah sehingga berbunyi
elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi seluruh Pegawai
kecuali:
a.
menggunakan hak atas cuti tahunan, cuti karena
alasan penting, cutimelahirkan, atau cuti sakit
kurang dari 3 (tiga) bulan berdasarkan surat izin
cuti dari pejabat pimpinan tinggi pratama pada unit
kerja yang menangani
masuk kerja karena cuti besar;
j.
Pegawai yang tidak masuk kerja karena cuti sakit;
k.
Pegawai yang tidak masuk kerja karena cutimelahirkan;
l.
Pegawai yang tidak masuk kerja karena cuti
Pasal 43
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
a.
Pegawai yang sedang proses dan/atau sedang menjalani
hukuman Disiplin, cuti sakit, cutimelahirkan, cuti
karena alasan penting, dan cuti besar; dan
b.
Pegawai yang sedang menjalani tugas belajar, pendidikan
dan pelatihan atau short course,
Tunjangan
Kerja;
c.
mengikuti pendidikan dan pelatihan atau short
course lebih dari 6 (enam) bulan secara berturut-
turut;
d.
melaksanakan
cuti
besar,
cutimelahirkan/
persalinan keempat dan seterusnya, dan cuti sakit;
dan/atau
e.
dijatuhi hukuman Disiplin yang tidak terkait dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf
ketentuan
peraturan
perundang-undangan.
Pasal 30
Tunjangan kinerja dibayarkan bagi Pegawai di Lingkungan
Kementerian Kebudayaan yang mengambil:
a.
Cuti tahunan;
b.
Cutimelahirkan;
c.
Cuti karena alasan penting;
d.
Cuti besar; dan
e.
Cuti sakit
Pasal 31
(1)
Tunjangan
kinerja
bagi
Pegawai
di
Lingkungan
Kementerian
Kebudayaan
yang
menjalankan
Cuti
tahunan, Cutimelahirkan, dan Cuti karena alasan penting
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf a sampai
dengan huruf c dibayarkan sebesar 100% (seratus persen).
(2)
Tunjangan
kinerja
bagi
Pegawai
di
Lingkungan
PPPK pada 1 (satu) bulan pertama kali bekerja
diberikan Tunjangan Kinerja sebesar 100% (seratus
persen);
i.
Pegawai yang telah selesai menjalani cutimelahirkan,
cuti diluar tanggungan negara, cuti sakit atau cuti
besar lebih dari 1 bulan pada 1 (satu) bulan pertama
kali bekerja diberikan Tunjangan
Kinerja
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dikecualikan bagi Pegawai
yang sedang:
a.
menjalani cuti besar;
b.
menjalani cuti tahunan;
c.
menjalani cutimelahirkan; dan/atau
d.
menjalani cuti karena alasan penting.
Pasal 18
(1)
Pegawai yang terlambat melakukan pengisian rencana
aksi,
pelaporan
kinerja,
atau
Penilaian
Kinerja
Diisi dengan jumlah hari Pegawai Tugas Belajar pada bulan berjalan
(10) Diisi dengan jumlah hari Pegawai melaksanakan cuti sakit, cuti tahunan,
cutimelahirkan dan cuti alasan penting
(11) Diisi dengan jumlah hari Pegawai melaksanakan cuti besar
(12) Diisi dengan jumlah hari libur dalam sebulan
Tunjangan Kinerja
Cuti Tahunan
Sesuai Peraturan
100%
Cuti Besar
Bulan ke-1
50%
Bulan ke-2
25%
Bulan ke-3
10%
CutiMelahirkan anak
ke-1 s/d ke-3
Bulan ke-1 s/d ke-3
100%
Cuti
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
BAB V
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 32
Setiap Pegawai yang menjalani hukuman disiplin, cuti sakit,
cutimelahirkan, cuti karena alasan penting, dan cuti besar
sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini dan/atau saat
berlakunya Peraturan Menteri ini masih menjalani hukuman
disiplin
besaran subkomponen disiplin
presensi; dan
c.
Pegawai yang mengambil cuti alasan penting, tidak
dikenakan pengurangan Tunjangan Kinerja.
(2)
Pegawai yang melaksanakan cutimelahirkan, Tunjangan
Kinerja diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
a.
pegawai yang mengambil cutimelahirkan
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 17
Tunjangan
Kinerja
dibayarkan
bagi
Pegawai
yang
melaksanakan:
a.
cuti sakit;
b.
cuti tahunan;
c.
cutimelahirkan;
d.
cuti besar; atau
e.
cuti karena alasan penting
Desember
s.d.
15
Januari
2026
100%
Sesuai
Predikat
Kinerja
Sesuai
Kehadiran
1
Februari
2026
b.
Pegawai I mengajukan cuti besar karena melahirkan anak ke-4 selama
3 (tiga) bulan pada tanggal 5 November 2025 s.d. 5 Februari 2026.
Untuk periode pembayaran Tunjangan Kinerja sebagai berikut
No.1020
-15-
1)
Guru SILN dapat mengajukan permintaan secara
tertulis dan mendapat persetujuan cutimelahirkan
anak pertama sampai dengan kelahiran anak ketiga
pada saat menjadi Guru SILN, dari pejabat yang
berwenang memberikan cuti.
2)
Lamanya cutimelahirkan sebagaimana dimaksud pada
angka 1) adalah 3 (tiga
dari pejabat yang
berwenang memberikan cuti. Pejabat yang berwenang wajib
memperhatikan keberlangsungan proses kegiatan belajar mengajar
dalam memberikan cuti keagamaan.
e. CutiMelahirkan
www.peraturan.go.id
dibayarkan sebesar 100% (seratus persen).
(2)
Bagi PNS yang
melahirkan
anak keempat dan
seterusnya
diberikan
cuti
besar
dengan
alasan
melahirkan
anak keempat
melahirkan
, untuk
persalinan
anak ... pertama
sampai
dengan
kedua,
pengurangan Tunjangan Kinerja sebesar 0% (nol persen);
dan
b.
Pegawai yang melaksanakan
cuti
melahirkan
, untuk
persalinan anak ketiga dan seterusnya, pengurangan
Tunjangan Kinerja dengan ketentuan:
1.
bulan pertama sebesar 40% (empat puluh persen);
2.
bulan kedua sebesar 70% (tujuh puluh persen
koma dua puluh lima persen) untuk setiap 1 (satu) Hari
dari besaran komponen Disiplin Presensi.
(2) Pegawai
yang
melaksanakan
cutimelahirkan/
persalinan keempat dan seterusnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) huruf d, dikenai
pengurangan Tunjangan Kinerja sebesar 2,25% (dua
koma dua puluh
Cuti
melahirkan
tidak
diberlakukan
pemotongan
Tunjangan Kinerja Pegawai.
Pasal 26
(1)
Persentase pemotongan Tunjangan Kinerja Pegawai dari
komponen Kehadiran dalam 1 (satu) bulan paling
cuti
bersama, diberlakukan pemotongan
Tunjangan sebesar 0% (nol persen);
h.
menjalani
hari
bebas
lima persen) untuk hari
sebelum
dan/atau
sesudah
kurun
waktu
menjalankan
ibadah
keagamaan
yang
bersangkutan;
b.
bagi Pegawai wanita yang menjalani cuti besar
dengan alasan kelahiran anak keempat dan
seterusnya,
diberlakukan
pemotongan
Tunjangan sebesar 0% (nol persen) untuk
paling lama 3 (tiga) bulan; atau
www.peraturan.go.id
lima persen) untuk hari sebelum
dan/atau
sesudah
kurun
waktu
menjalankan
ibadah keagamaan yang bersangkutan;
b.
bagi Pegawai wanita yang menjalani cuti besar
dengan
alasan
kelahiran
anak
keempat
dan
seterusnya, diberlakukan pemotongan Tunjangan
sebesar 0% (nol persen) untuk paling lama 3 (tiga)
bulan; atau
c.
bagi
bagi Pegawai wanita yang menjalani cuti besar
dengan
alasan
kelahiran
anak
keempat
dan
seterusnya, diberlakukan pemotongan Tunjangan
sebesar 0% (nol persen) untuk paling lama 3 (tiga)
bulan; atau
c.
bagi Pegawai yang menjalani cuti besar dengan alasan
selain sebagaimana dimaksud pada huruf a dan
huruf
persen) untuk hari
sebelum
dan/atau
sesudah
kurun
waktu
menjalankan
bersangku tan;
ibadah
keagamaan
yang
b.
bagi Pegawai wanita yang menjalani cuti besar
dengan alasan kelahiran anak keempat dan
seterusnya,
diberlakukan
pemotongan ()>
www.jdih.kemenkeu.go.id
dari 6 (enam) bulan sampai
dengan 18 (delapan belas) bulan sebesar 4%
(empat persen) per hari;
k.
tidak
masuk
kerja
karena
cutimelahirkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1)
huruf k dikenakan pemotongan tunjangan kinerja
dengan ketentuan sebagai berikut:
1.
Pegawai
yang
melaksanakan
cuti
dimulai sejak tanggal awal cuti sampai
dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal yang sama pada
bulan berikutnya;
d.
Pegawai yang melaksanakan cutimelahirkan anak
kesatu, anak kedua, dan anak ketiga, Tunjangan
Kinerja dibayarkan 100% (seratus persen);
e.
Pegawai yang melaksanakan cuti karena alasan
penting, Tunjangan
untuk
melaksanakan persalinan pertama sampai dengan
kedua tidak dikenakan
tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf b
dibayarkan sebesar 100% (seratus persen).
Pasal 20
Tunjangan Kinerja bagi Pegawai yang melaksanakan
cuti
melahirkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf c
untuk persalinan anak pertama sampai dengan anak ketiga
dibayarkan sebesar 100% (seratus persen).
Pasal